Sudah tiba waktunya bagi kita untuk mempraktekkan teologi Al ‘Ashr.
Saat ini banyak umat Islam yang beramal shaleh namun tidak beriman, dan banyak pula umat Islam yang beriman namun tidak beramal. Dengan kata lain, hukum Islam ditegakkan, namun tidak berdasarkan keimanan.Betapapun banyaknya amal shaleh yang dilakukannya, betapapun bermanfaatnya amal perbuatannya, jika tidak dibarengi dengan keimanan kepada Allah, maka semua akan sia-sia. Apa yang dilakukannya hanya dihargai oleh manusia, namun tidak ada nilainya di hadapan Allah. Dalam QS (Al-Furqan: 23).
Artinya pada hari kiamat, Allah sendiri yang akan mengungkapkan amal baik dan buruk dunia ini. Kemudian Allah menyingkirkan mereka semua dan tidak memberikan pahala sedikit pun kepada mereka.Karena mereka tidak percaya Sesungguhnya keimananlah yang menjadikan amal shaleh diterima.Sebaliknya, banyak orang yang mengaku beriman, namun tidak dibarengi dengan amal shaleh (Syariah). Seseorang yang belum meneguhkan keimanannya kepada Allah tidak dianggap sebagai Muslim sejati.
Iman adalah sebuah pengakuan, tetapi amal adalah hasil dari sebuah pengakuan. Jika ia percaya pada keesaan dan keberadaan Tuhan, ia harus mengikuti pengakuannya dengan bukti. Mereka beribadah dan taat kepada Allah serta tidak meragukan Allah.Namun yang menyedihkan adalah kini pengakuan hanya diucapkan dari mulut mereka dan mereka menolak mengikuti hukum Syariah. Sebaliknya iman dan amal merupakan satu kesatuan yang tidak dapat dipisahkan. Jika salah satunya hilang, maka seseorang yang mengamalkan Islam bukanlah orang yang sempurna.
Oleh karena itu, teologi Al ‘Ashr berpijak pada tauhid, membimbing peradaban Islam di dunia sekuler dan gerejawi ke arah yang lebih baik, memurnikan tauhid, memberantas kemunafikan dan kekafiran, serta meningkatkan karakter manusia.


Tinggalkan Balasan